Kampus Bukan Sebatas Ruang Diskusi: Membedah Film “Pesta Babi”

Jember – Refleksi kritis atas kondisi bangsa Indonesia membuat Prodi Studi Ilmu Sejarah menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” yang bertempat di Aula Sutan Takdir Alisjahbana, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember (21/05). Acara yang berlangsung mulai pukul 15.00 sampai 18.00 WIB ini dipandu oleh Alya Aurelia Ananta selaku moderator dan Dr. Tri Chandra Aprianto, S.S., M.Hum., sebagai narasumber dalam acara tersebut.

Penyelenggaraan kegiatan ini didasari oleh rasa prihatin terhadap peran dunia kampus yang semakin berjarak dari realitas sosial masyarakat. Belakangan ini, kampus hanya berperan sebagai ruang diskusi tanpa pernah melahirkan tindakan nyata untuk merespons ketidakadilan di masyarakat secara luas. Pemutaran film “Pesta Babi” serta diskusi ini dilaksanakan untuk memantik kembali keberanian intelektual mahasiswa. Tujuan akhirnya adalah untuk memaksa civitas akademika agar mau melihat, membedah, dan menyuarakan persoalan sistemik yang sedang memenjara bangsa.

Pesta babi
Diskusi Film Pesta Babi

Diskusi dilakukan sekitar pukul 17.00 WIB setelah sesi pemutaran film, dibuka dengan pemaparan dari Dr. Tri Chandra  Aprianto, S.S, M.Hum., yang menegaskan bahwa film ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah sekaligus dunia akademik. Pesan utama yang disampaikan adalah kenyataan bahwa praktik kolonialisme belum benar-benar lenyap dari Indonesia, praktik ini hanya berubah dalam bentuk baru melalui penguasaan ruang hidup masyarakat dan eksploitasi sumber daya alam (SDA) oleh kekuatan kapitalis global serta investor.

Diskusi ini menyoroti tiga “kutukan” kolonialisme modern di Indonesia. Pertama, Kutukan Masa Lalu, yaitu belum tuntasnya tragedi 1965–1966 dan lahirnya Undang-Undang Orde Baru yang meloloskan kapitalisme global. Kedua, Kutukan Sumber Daya Alam, saat daerah kaya hasil bumi seperti Papua dan Sulawesi Utara justru miskin akibat korupsi serta perampasan lahan masyarakat adat. Ketiga, Kutukan Intelektual, berupa sikap pasif dunia kampus yang minim aksi nyata serta adanya kaum terpelajar yang mendukung birokrasi korup. 

Narasumber berpesan agar apa yang didapat dari pemutaran film “Pesta Babi” tidak hanya berhenti sebatas tontonan atau bahan diskusi semata. Beliau juga mendesak negara agar berani menghadapi masa lalu dengan meminta maaf secara resmi atas tragedi 1965-1966 guna memutus rantai kekerasan struktural dan stigma buruk yang hingga kini masih kerap kali digunakan untuk membungkam masyarakat yang mengkritik. 

Pesan kepada mahasiswa ditekankan oleh narasumber, beliau ingin mahasiswa menjadi kaum intelektual yang memiliki kekuatan moral dan keberpihakan nyata kepada rakyat khususnya masyarakat adat yang tertindas. Pesan juga diberikan kepada kampus untuk kembali menjadi center of excellence yang berani mengkritisi sejarah secara jujur demi meluruskan masa depan bangsa.Acara ini kemudian dilanjutkan dengan sesi dokumentasi pada pukul 18:00 WIB bersama seluruh peserta dengan membawa pulang satu mandat penting bergerak melakukan aksi nyata. Sesi tersebut sekaligus mengakhiri seluruh rangkaian acara nobar dan diskusi film “Pesta Babi”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *